Bertemu Arwah Nurhalimah
Malam semakin membekap kelam. Bulan terang sudah seminggu tidak pernah muncul di atas awan. dari kejauhan, sesekali terdengar lolongan anjing yang memilukan. Tangisan hewan yang bisa melihat alam gaib itu, membuat bulu kuduk berdiri.
Aku masih mencoba bertahan di bawah sebuah gubuk yang berpenerang bohlam lima watt. Kuperhatikan sekeliling gubuk, sepertinya tempat jualan air ijuk. Hujan deras semenjak dua jam lalu belum berhenti. Hendak bernaung ke rumah warga, tentu bukan pilihan. Sebab dari tempatku berdiri saat itu, butuh waktu dua jam untuk mencapai pemukiman.
Namun tiba-tiba, dari arah utara jalan muncul sesosok tubuh yang basah kuyup. Ah, seorang perempuan rupanya. kuperhatikan dengan seksama. Seorang gadis muda memakai baju putih lengan pendek menuju ke arah ku.
air hujan membuat pakaiannya menempel ketat ditubuhnya. Dia mendekat sambil kedua tangannya mendekap dada. Sepertinya gadis itu kedinginan.
"Boleh saya numpang berteduh," katanya sambil berdiri di samping ku.
"Silahkan saja. Adik ini dari mana? Kok sendirian? kenapa jalan kaki?," tanyaku.
"Bus yang saya tumpangi berhenti di terminal sana. Saya sempat mencari tumpangan, namun tidak seoran pun bersedia mengantar saya ke kampung sebelah. Alasannya ya karena hujan," jawabnya sambil meniup telapak tangannya.
"Kulihat dari penampilan, adik ini dari kota ya?," tanyaku.
"Iya bang. Saya pulang kampung. Udah rindu sama ibu dan bapak. Abang sendiri mau kemana?,"
"Saya mau ke Banda Aceh. Ada urusan kerja," jawabku sambil menyulut sebatang rokok.
Kami lama berbincang. Rasa kelelakianku sempat berkali-kali berontak. Gadis disampingku berkulit kuning langsat. Rambutnya sebahu. Hidungnya bangir dengan bibir merah merekah. Gayanya manja dan hangat.
Baju putihnya yang basah semakin membuatku menarik nafas dalam-dalam. Otomatis bagian dalamannya kelihatan secara samar. Dia memakai celana baggy ketat dengan warna biru pudar.Bokongnya juga padat berisi.
Banyak hal yang kami perbincangkan di bawah gubuk tersebut. Da juga sempat menyulut beberapa batang rokok. Katanya ingin mengusir dingin. Sesekali, dengan bercanda dia menghembuskan asap rokok ke wajahku. Gayanya seolah-olah kami sudah berkenalan lama.
Terkadang bicaranya juga menyerempet ke persoalan kelamin dan dunia esek-esek. Dia juga bertanya apakah aku pernah meniduri perempuan. Ketika aku menggeleng, dia malah tertawa sambil berkata tidak percaya.
"Lelaki seganteng abang, mustahil belum mengajak bobok perempuan di kota," katanya sambil merapatkan duduknya ke badanku.
"Lelaki seganteng abang, mustahil belum mengajak bobok perempuan di kota," katanya sambil merapatkan duduknya ke badanku.
Aku hanya tertawa sambil menghisap rokok.
"Apakah kamu sudah pernah tidur dengan lelaki?," tanyaku.
"Hehehehe. Penasaran ya? Ya iyalah. Saya pernah tidur dengan ayah saya ketika masih bayi. Juga pernah nyaris tidur dengan pacar saya ketika kami bertamasya ke Wehni Kulus. Untung saja saat itu saya menyadari kehadiran sekumpulan anak muda yang ngeten di balik semak-semak. hehehe," jawabnya santai.
Ketika hujan mereda, kami sepakat untuk berangkat bersama. Dua jam kemudian kami sampai ke rumah yang dia tuju.
"Kalau sempat, ketika pulang, silahkan berkunjung ke sini. Pintu rumah ini selalu terbuka untuk abang," katanya sambil pamit. Aku mengangguk.
"Nomor hp kamu berapa? Oh nama kamu siapa ya?,"
"Nama saya Nurhalimah. Saya tidak pakai hp. Kalau kebetulan saya tidak di rumah. Abang tanya saja sama tetangga. Mereka pasti kenal sama saya," jawabnya sambil tersenyum.
Aku membalas senyumnya yang manis itu.
"Oh iya bang. Saya minta maaf atas sikap saya tadi di gubuk. Jujur saya tidak bisa mengontrol diri, tadi. Sekali lagi maaf ya?,"
"Iya. Saya juga minta maaf ikut larut dalam pembicaraan yang sepatutnya tidak layak itu," timpalku. Kemudian aku pamit.
***
Lelaki tua itu memerhatikan wajahku dalam durasi yang cukup lama. Dia nampak heran.
"Kamu beruntung anak muda," katanya singkat. Matanya tetap menatapku tajam.
Maksud bapak?," tanyaku penasaran.
Dia mendehem beberapa kali. Kemudian mulai angkat bicara.
20 tahun lalu, Nurhalimah, bunga desa Gampong Ceureumen, diperkosa secara berama-ramai oleh sekelompok pemuda. Peristiwa memilukan itu terjadi di gubuk di mana gadis itu berjualan air ijuk bersama ibunya.
Setelah diperkosa, dia dicampakkan di pinggir jalan dalam kondisi lemah. Warga kemudian memberikan pertolongan. Nurhalimah mengenali siapa pelaku pemerkosaan terhadap dirinya. Namun karena para pelaku adakah anak petinggi, maka di pengadilan dirinya kalah. Malah Nur dituduh menyebarkan berita bohong. Akibatnya dia masuk penjara.
Di dalam penjara dia keguguran dan akhirnya meninggla dunia karena keguguran. Sejak saat itu arwahnya gentanyangan.
Satu persatu para pelaku pemerkosaan terhadap dirinya mati secara misterius. Menurut kabar, semua jenazah mereka, satu persatu ditemukan di gubuk tempat Nur dulunya diperkosa.
Setelah para pemerkosa itu semuanya mati, hantu Nurhalimah masih tetap muncul. Biasanya dia akan mengganggu orang yang lewat di kawasan itu tengah malam. Penampilannya selalu seksi. Banyak lelaki yang gatal mencoba mengganggu dirinya. Biasanya lelaki demikian akan dibantai oleh Nurhalimah, setelah sebelumnya arwah itu melayani hubungan badan.
"Dari paparan beberapa korban yang berhasil selamat, mereka sempat berhubungan badan dengan cewek cantik di gubuk tersebut. Ketika mencapai klimaks, tubuh mereka terpelanting ke sana kemari tanpa bisa dilawan. Yang selamat rata-rata karena suara azan menjelang subuh," terang lelaki tau dihadapanku.
Aku termangu. Kualihkan perhatianku kepada sebuah rumah yang sebelumnya diakui oleh Nurhalimah sebagai rumahnya. Sebuah bangunan tua sederhana dan nyaris rubuh.
"Sesekali dia juga terlihat di depan rumah. Bahkan beberapa kali sempat menegur warga yang lewat. Namun arwah Nurhalimah akan menghilang bila di saat yang sama muncul Teungku Irwan," terangnya.
"Siapa Teungku Irwan itu?," tanyaku.
"Dia tunangannya. Saat Nurhalimah diperkosa, mereka sudah hampir menikah. Walau Irwan menerima apapun kondisi Nur, namun karena dia dianggap telah mencemarkan nama baik keluarga pejabat, akibatnya Nur tak kuasa untuk menolak kehadirannya di penjara.
"Lalu kenapa pula saya tidak diganggu olehnya malam itu?," aku bertanya.
"Mungkin dia menghormatimu. penampilannya yang seksi serta hujan deras tidak membuat dirimu kalap dan membujuk dirinya untuk bercinta," terang lelaki itu.
Jujur, malam itu hasrat lelakiku muncul. Namun karena takut terhadap Tuhan, aku menahan ekuat tenaga agar tidak mencoba berbuat buruk terhadap perempuan itu. Untung saja, bila tidak, aku akan bernasib seperti mereka yang telah menjadi korbannya.
Aku masih punya beberapa pertanyaan lain kepada lelaki itu. Akan tetapi baru saja aku hendak membuka mulut, pria berambut ikal itu telah menghilang dari hadapanku. []
Note: Kisah ini merupakan peristiwa nyata, dengan tambahan bumbu dari penulis.


Post a Comment