Dendam Arwah Satariyah
Bila hujan rintik-rintik di malam Jumat arwahnya selalu muncul di pertigaan jalan setiap kampung di Mukim kami. Menurut kAbar dia mati bunuh diri.
Namanya Satariyah. Perempuan muda asal salah satu kampung di mukim A. kulitnya hitam manis. Hidungnya mancung layaknya kebanyakan gadis Bangla. menurut cerita dia punya darah Hindi murni dari kakek buyutnya. tubuhnya tinggi. pinggulnya bak gitar spanyol.
Sehari-hari dia membantu ayahnya di ladang. Dalam hidupnya dia tidak pernah merasakan dunia pendidikan formal. Namun untuk urusan baca kitab gundul, Satariyah adalah juaranya.
Pada suatu hari dia diperkosa oleh lima pemuda nakal. Mereka Adalah anak orang-orang terpandang di mukim A.
Atas musibah itu, Satariyah mengadu k ayahnya. Sang ayah melaporkan hal trsebut kepada tetua kmpung. Namun tidak sorang pun percaya. Sebab tidak mungkin anak orang terpandang berbuat sekeji itu.
Bahkan banyak warga yang menduga Satariyah dan ayahnya sedang melakukan sandiwara. Mereka berasumsi bahwa keduanya hendak memeras.
Ada niat hendak menggugurkan kandungan. Namun sang ayah melarang. Akhirnya perutnya semakin membesar. Dia pun semakin tersudut. Dituduh sebagai wanita lacur yang sok alim. Bahkan dia difitnah telah tidur dengan puluhan laki-laki.
Jelang melahirkan, ratusan warga mendatangi rumahnya. mereka menolak kelahiran si jabang bayi di kampung itu. Namun ayahnya tetap memberikan perlindungan. Akibatnya dia dihakimi beramai-ramai hingga tewas.
Melihat sang ayah tewas di tangan manusia sok suci, Satariyah sangat terpukul. Dia kemudian menusuk perutnya dengan pisau dapur.
***
Dua bulan pasca itu, warga kerap kali menemukan wanita misterius duduk di bekas rumah Satariyah yang dibakar massa. Kemunculannya setiap malam Jumat. Bila kebetulan turun rinai kecil, selalu saja ada warga yang kesurupan. Kemudian satu persatu mati mendadak. Termasuk lima pemuda yang dulunya berbuat jahat kepada Satariyah.
Semakin hari terornya semakin nyata. Menurut sahibul hkayah, kini sasarannya bukan saja mereka yang pernah menjahatinya. Tapi siapapun yang pernah menzalimi perempuan miskin akan menjadi musuh Satariyah.
Namanya Satariyah. Perempuan muda asal salah satu kampung di mukim A. kulitnya hitam manis. Hidungnya mancung layaknya kebanyakan gadis Bangla. menurut cerita dia punya darah Hindi murni dari kakek buyutnya. tubuhnya tinggi. pinggulnya bak gitar spanyol.
Sehari-hari dia membantu ayahnya di ladang. Dalam hidupnya dia tidak pernah merasakan dunia pendidikan formal. Namun untuk urusan baca kitab gundul, Satariyah adalah juaranya.
Pada suatu hari dia diperkosa oleh lima pemuda nakal. Mereka Adalah anak orang-orang terpandang di mukim A.
Atas musibah itu, Satariyah mengadu k ayahnya. Sang ayah melaporkan hal trsebut kepada tetua kmpung. Namun tidak sorang pun percaya. Sebab tidak mungkin anak orang terpandang berbuat sekeji itu.
Bahkan banyak warga yang menduga Satariyah dan ayahnya sedang melakukan sandiwara. Mereka berasumsi bahwa keduanya hendak memeras.
Ada niat hendak menggugurkan kandungan. Namun sang ayah melarang. Akhirnya perutnya semakin membesar. Dia pun semakin tersudut. Dituduh sebagai wanita lacur yang sok alim. Bahkan dia difitnah telah tidur dengan puluhan laki-laki.
Jelang melahirkan, ratusan warga mendatangi rumahnya. mereka menolak kelahiran si jabang bayi di kampung itu. Namun ayahnya tetap memberikan perlindungan. Akibatnya dia dihakimi beramai-ramai hingga tewas.
Melihat sang ayah tewas di tangan manusia sok suci, Satariyah sangat terpukul. Dia kemudian menusuk perutnya dengan pisau dapur.
***
Dua bulan pasca itu, warga kerap kali menemukan wanita misterius duduk di bekas rumah Satariyah yang dibakar massa. Kemunculannya setiap malam Jumat. Bila kebetulan turun rinai kecil, selalu saja ada warga yang kesurupan. Kemudian satu persatu mati mendadak. Termasuk lima pemuda yang dulunya berbuat jahat kepada Satariyah.
Semakin hari terornya semakin nyata. Menurut sahibul hkayah, kini sasarannya bukan saja mereka yang pernah menjahatinya. Tapi siapapun yang pernah menzalimi perempuan miskin akan menjadi musuh Satariyah.

Post a Comment