Ibuku Disantet Tetangga
Kisah ini terjadi beberapa tahun lalu di sebuah gampong di seputaran ibukota Propinsi Aceh. Pada suatu malam, saat itu kami sekeluarga baru saja selesai shalat isya. Hujan deras turun sejak kuamndang azan magrib. Listrik mati total sejak tadi pagi. Aku mendengar kabar bila tiang-tiang penyangga listrik di Aceh Timur telah ditumbangkan oleh pihak GAM.
Tiba-tiba ibu membuka kerudungnya dengan cara yang tidak lazim. Kemudian mengumpalnya seperti bola. Dalam hitungan detik, kerudung itu sudah mendarat di wajah bapak.
Selanjutnya ibu segera ke dapur. Di sana, beliau memecahkan piring dan peralatan lainnya. Dalam kondisi cahaya lampu teplok yang lamat-lamat, aku melihat wajah ibu sangat seram. Matanya melotot. Wajahnya nampak seperti asing bagiku.
Bapak kemudian meminta kami untuk tidak mendekati ibu.
"Ris (nama samaran) bawa adik adikmu ke kamar," kata Bapak.
"Baik Pak," jawabku patuh. kemudian aku membawa ketiga adikku yang semuanya masih SD masuk ke kamar tidur.
Aku mengintip dari balik lubang jendela. Namun karena kondisi gelap, aku gagal melihat apapun. Hanya saja suara gaduh tidak terdengar lagi. Hatiku lega.
Tiba-tiba bapak memanggilku. Aku keluar setelah mewanti adik-adik agar tetap di kamar.
Baru saja aku melangkah, Masya Allah, apa yang terjadi?. Ibu sedang merayap di dinding rumah. Seperti cecak, bahkan ibu bisa melompat ke sana kemari layaknya Spiderman.
Melihat aku datang, ibu langsung menatapku dengan gaya meneror. Seolah-olah ingin melompat dan mencekik diriku. Wajahnya sangat mengerikan. Tak bisa kulukiskan dengan kata-kata.
Suasana semakin tegang, karena ibu tertawa-tawa dengan suara mengerikan. Dia juga meracau asal jadi dengan suara yang tidak kukenali.
Bapak kulihat duduk di lantai dengan wajah menunduk.
"Ris, cepat panggil Pak Imam. ibu disantet orang," perintah Bapak.
"Aku segera berlari menerobos hujan. 15 Menit kemudian aku sudah kembali ke rumah disertai imam kampung.
Melihat Imam datang, ibu menjadi semakin beringas. Dia melompat ke sana sini sambil menantang duel. Begitu mudahnya ibu yang bertubuh tambun meloncat dari satu tiang ke tiang lainnya.
"Maryani (nama samaran) dapat kiriman orang, Pak Imam, " kata Bapak menjelaskan.
"Iya, aku sudah tahu. Suruh Ris minggir. Kita harus menangkapnya. Bawa anak-anak keluar rumah. Karena kulihat iblis dalam tubuhnya kejam," kata Pak Imam.
Aku bergerak cepat. Kubawa adik-adik keluar rumah.
Aku dilarang masuk ke dalam rumah. Bersama dengan tetangga lainnya, aku hanya mendengar suara gaduh dari luar dinding.
****
Kira-kira setengah jam kemudian, suasana di dalam rumah sudah hening. Tanpa suara. Aku masuk. Namun aku melarang tetangga untuk ikut masuk.
Kulihat ibu sudah tertidur di lantai. Bapak dan Pak Imam sedang merokok.
"Sebentar lagi akan terlihat reaksinya," ujar Pak Imam.
Tiba-tiba kami mendengar suara raungan dari luar. Aku segera keluar. Seorang perempuan berusia 40 tahun, berlari ke arah rumah kami sambil meminta ampun. Dia menangis setengah meronta-ronta. Pak Imam kemudian mengobati si perempuan itu.
***
Dua hari kemudian kami membuat perdamaian antar keluarga. Pertemuan itu tertutup bagi warga. Perempuan itu mengaku bersalah telah menyantet ibu. Dia berjanji tidak akan mengulangi lagi. Ihwal kenapa dia mengirimkan iblis ke tubuh ibu, ini karena persoalan lama ketika mereka gadis-gadis.
Namun, ketika bapak menanyakan itu ke ibu, beliau mengaku tidak sanggup berpikir lagi. Jalan pikirannya kacau dan sampai sekarang masih lemah. Walau akhirnya kami benar-benar berdamai, namun ibu tidak pernah normal seutuhnya. Kadangkala beliau termenung sendiri sambil meracau-racau tidak jelas.
Menurut ahli ruqyah, jiwa ibu terguncang.
Ingin rasanya aku membalas perilaku bejat perempuan itu terhadap ibuku. Namun, setiap niat itu hendak kutunaikan, seolah-olah ibu tahu. Beliau selalu melarang. "Biarlah ibu kehilangan kesehatan. Ibu tidak ingin kehilangan kamu," kata ibu sambil memelukku.
Perempuan yang menyantet ibu kemudian dihumbalang tsunami. []
Tiba-tiba ibu membuka kerudungnya dengan cara yang tidak lazim. Kemudian mengumpalnya seperti bola. Dalam hitungan detik, kerudung itu sudah mendarat di wajah bapak.
Selanjutnya ibu segera ke dapur. Di sana, beliau memecahkan piring dan peralatan lainnya. Dalam kondisi cahaya lampu teplok yang lamat-lamat, aku melihat wajah ibu sangat seram. Matanya melotot. Wajahnya nampak seperti asing bagiku.
Bapak kemudian meminta kami untuk tidak mendekati ibu.
"Ris (nama samaran) bawa adik adikmu ke kamar," kata Bapak.
"Baik Pak," jawabku patuh. kemudian aku membawa ketiga adikku yang semuanya masih SD masuk ke kamar tidur.
Aku mengintip dari balik lubang jendela. Namun karena kondisi gelap, aku gagal melihat apapun. Hanya saja suara gaduh tidak terdengar lagi. Hatiku lega.
Tiba-tiba bapak memanggilku. Aku keluar setelah mewanti adik-adik agar tetap di kamar.
Baru saja aku melangkah, Masya Allah, apa yang terjadi?. Ibu sedang merayap di dinding rumah. Seperti cecak, bahkan ibu bisa melompat ke sana kemari layaknya Spiderman.
Melihat aku datang, ibu langsung menatapku dengan gaya meneror. Seolah-olah ingin melompat dan mencekik diriku. Wajahnya sangat mengerikan. Tak bisa kulukiskan dengan kata-kata.
Suasana semakin tegang, karena ibu tertawa-tawa dengan suara mengerikan. Dia juga meracau asal jadi dengan suara yang tidak kukenali.
Bapak kulihat duduk di lantai dengan wajah menunduk.
"Ris, cepat panggil Pak Imam. ibu disantet orang," perintah Bapak.
"Aku segera berlari menerobos hujan. 15 Menit kemudian aku sudah kembali ke rumah disertai imam kampung.
Melihat Imam datang, ibu menjadi semakin beringas. Dia melompat ke sana sini sambil menantang duel. Begitu mudahnya ibu yang bertubuh tambun meloncat dari satu tiang ke tiang lainnya.
"Maryani (nama samaran) dapat kiriman orang, Pak Imam, " kata Bapak menjelaskan.
"Iya, aku sudah tahu. Suruh Ris minggir. Kita harus menangkapnya. Bawa anak-anak keluar rumah. Karena kulihat iblis dalam tubuhnya kejam," kata Pak Imam.
Aku bergerak cepat. Kubawa adik-adik keluar rumah.
Aku dilarang masuk ke dalam rumah. Bersama dengan tetangga lainnya, aku hanya mendengar suara gaduh dari luar dinding.
****
Kira-kira setengah jam kemudian, suasana di dalam rumah sudah hening. Tanpa suara. Aku masuk. Namun aku melarang tetangga untuk ikut masuk.
Kulihat ibu sudah tertidur di lantai. Bapak dan Pak Imam sedang merokok.
"Sebentar lagi akan terlihat reaksinya," ujar Pak Imam.
Tiba-tiba kami mendengar suara raungan dari luar. Aku segera keluar. Seorang perempuan berusia 40 tahun, berlari ke arah rumah kami sambil meminta ampun. Dia menangis setengah meronta-ronta. Pak Imam kemudian mengobati si perempuan itu.
***
Dua hari kemudian kami membuat perdamaian antar keluarga. Pertemuan itu tertutup bagi warga. Perempuan itu mengaku bersalah telah menyantet ibu. Dia berjanji tidak akan mengulangi lagi. Ihwal kenapa dia mengirimkan iblis ke tubuh ibu, ini karena persoalan lama ketika mereka gadis-gadis.
Namun, ketika bapak menanyakan itu ke ibu, beliau mengaku tidak sanggup berpikir lagi. Jalan pikirannya kacau dan sampai sekarang masih lemah. Walau akhirnya kami benar-benar berdamai, namun ibu tidak pernah normal seutuhnya. Kadangkala beliau termenung sendiri sambil meracau-racau tidak jelas.
Menurut ahli ruqyah, jiwa ibu terguncang.
Ingin rasanya aku membalas perilaku bejat perempuan itu terhadap ibuku. Namun, setiap niat itu hendak kutunaikan, seolah-olah ibu tahu. Beliau selalu melarang. "Biarlah ibu kehilangan kesehatan. Ibu tidak ingin kehilangan kamu," kata ibu sambil memelukku.
Perempuan yang menyantet ibu kemudian dihumbalang tsunami. []


Post a Comment