Misteri: Bangkitnya Hantu Sulaiman dan Muladi

“Ah kau. Kalau kau menolak, segera bayar hutang-hutangmu padaku. Juga akan kulaporkan ke warga bahwa kau yang membakar rumah Geuchik tempo hari. Mau kau!?,”

Sulaiman dan Muladi adalah dua anak manusia yang berprofesi sebagai pemotong kayu rimba. Sulaiman bertugas sebagai sopir sinso (Chainsaw-pen) dan Muladi adalah kernetnya. Mereka berkerja kepada siapapun yang mau membayar keahlian mereka. Keduanya dikenal sebagai pekerja yang ulet, rapi serta cepat. Walau demikian, untuk soal bayaran, mereka tetap sama dengan orang lain. Tidak ada ongkos istimewa.

Mereka nyaris tidak pernah menganggur. Dalam sebulan, bilapun mereka menampakkan batang hidungnya di pasar adalah hari Jumat saja. Juga waktu diantara keduanya ada yang jatuh sakit. Selebihnya, bila punya hajat, carilah mereka ke rimba Tuhan yang maha luas. 

Hingga suatu ketika, serdadu Jakarta banyak dikirim ke Aceh. Dalam hitungan minggu, prajurit TNI itu sudah menguasai berbagai lahan profesi masyarakat. Untuk soal perambahan hutan, banyak diantara mereka yang menjadi toke baru. Senjata api yang mereka sandang, menjadi modal utama untuk memuluskan niatan mereka untuk menjadi penguasa hasil hutan di Aceh. Permainan mereka tentu sesuai pangkat yang sandang.

Karena keterampilan yang luar biasa, Sulaiman dan Muladi ikut diincar sebagai pekerja oleh serdadu. Hingga suatu hari mereka dipanggil ke pos militer. Sejatinya mereka hendak menolak bekerjasama dengan serdadu yang diikirim sebagai killing machine itu. Akan tetapi apalah daya lelaki kampung. Akhirnya mereka “dikontrak” oleh TNI. 

Bekerja pada TNI tentu penuh dengan resiko. Orang yang salah tafsir bisa datang kapan saja. Resiko itu sangat disadari oleh keduanya. Tapi mau hendak apa lagi? Serba salah. Ibarat makan buah simalakama. Tak dimakan mati ayah, dimakan mati ibu. 

Ada rencana untuk lari. Tapi mau lari kemana? Kalaupun mereka punya jalan untuk melarikan diri, bagaimana dengan nasip anak dan istri mereka? Apalagi Muladi sendiri masih bersatus pengantin baru. Usia perkawinannya baru tujuh bulan.

***

Pada suatu malam yang hujan amat deras. Kedua anak manusia yang berteman akrab itu sedang membetulkan atap barak darurat yang mereka buat ditengah hutan. Empat hari lagi lebaran. Kayu hasil olahan mereka suda bertumpuk di dekat barak. Sambil membetulkan atap, mereka berdua sedang berhitung soal upah yang lumayan banyak.

Leman berkata bahwa lusa dia akan mengajak istrinya turun ke kota untuk membeli keperluan lebaran. Apalagi sudah dua kali lebaran istrinya tidak dibelikan baju baru. Demikian juga dengan anak lelakinya yang sudah lama kesengsem sama sepeda buatan Jepang yang sering diiklankan di tv.

Muladi lain lagi rencananya. Dia akan membelikan perlengkapan bayi. Dia sudah berhitung, bahwa upahnya kali ini cukup untuk memenuhi semua kebutuhan bayi serta membelikan sedikit keperluan lebaran. Istrinya pasti berbahagia.

Tengah malam, saat mereka sudah terlelap dalam buaian mimpi, sekelompok manusia mendekat. Tidak jelas siapa. Mereka merangkak dalam derasnya hujan dan gelapnya malam. 

Terdengar percakapan

“Kau habisi saja keduanya. Jangan tinggalkan bukti apapun,”

“Tapi kan masalahmu hanya dengan Muladi. Leman gak tahu apa-apa soal asmara kalian,” bisik suara lain.

“Jangan banyak bicara. Eksekusi saja keduanya. Keduanya berkawan akrab,”

“Tapi haruskah Leman juga mati? Lalu kalau terbongkar, apa pula alas an kita?,”

“Sudah jangan banyak Tanya, Bilang saja mereka cuak. Bukankah cuak harus dilenyapkan?,”

“Tapi, mereka kan bukan cuak. Mereka hanya pekerja kasar di hutan,”

“Ah kau. Kalau kau menolak, segera bayar hutang-hutangmu padaku. Juga akan kulaporkan ke warga bahwa kau yang membakar rumah Geuchik tempo hari. Mau kau!?,”

“Kau, sikit-sikit ngancam. Baiklah. Tapi setelah ini aku tak mau terlibat lagi dengan urusan lain,”

Dalam kepekatan malam yang basah itu, kedua anak manusia yang malang itu dihabisi dengan cara ditembak. Muladi sendiri di siksa dengan cara yang sangat biadap. Kemaluannya di potong.

***

Lebaran tiba. Takbir menggema dimana-mana. Namun warga gampong setempat dikerubungi kekalutan. Sulaiman dan Muladi tak kunjung pulang. Istri keduanya tenggelam dalam kesedihan. 

TNI yang berada di pos gampong itu sibuk luar biasa. Lamat-lamat, secara pelan tersiar kabar bila mereka berdua dihabisi oleh gerilyawan, karena mereka adalah cuak. 

Hingga berbulan-bulan lamanya jasad mereka tidak pernah ditemukan. 

***

Tujuh bulan lamanya sulaiman dan Muladi terbenam dalam lumpur gajah. Mereka akhirnya sepakat untuk bangkit menuntut balas. 

Muladi tahu siapa dalang dan siapa pula eksekutor mereka malam itu. Demikian juga dengan Sulaiman. Arwah mereka sempat melihat gerombolan pelaku. 

Mereka kemudian turun dari hutan. Mereka menyusuri jalan setapak. Dalam sekejap mereka sampai ke kampung. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan TNI yang sedang patroli. 

“Mul, kau bawa KTP tidak?,” Tanya Sulaiman.

“Untuk apa bang?” Timpal Muladi.

“Itu TNI sedang patroli. Kalau tak punya KTP, kita ditangkap. Mau kau masuk penjara?,” Jawab Sulaiman.

“Ayo sembunyi bang. Aku tak bawa KTP,”

Keduanya kemudian sembunyi. Dua orang serdadu mendekat. TNI menyorot sekeliling dengan senter. Sorotan senter mereka mengenai wajah mereka berdua. Tapi TNI itu tidak bereaksi apa-apa.

“Kok TNI itu tidak peduli sama kita? Aneh,” kata Sulaiman.

“TNI oon bang. Mungkin kita dikira hantu,” Jawab Muladi.

“Eh, lu yang oon Mul. Kita kan tidak nampak. Kita kan hantu,” Timpal sulaiman.

Mereka berdua saling memandang. Kemudian tertawa bersama.

Sadar bahwa mereka adalah hantu, kemudian timbul niatan usil. Sejenak, mereka tenggelam dalam eforia dunia hantu. Mereka pun terbang kesana-kemari sesuka hati.

Di jalan mereka bertemu dengan berbagai jenis hantu lain. Termasuk hantu legendaris Aceh yang bernama Burong Tujoh. Akan tetapi diantara semua hantu, yang paling mengerikan adalah hantu yang bernama manusia. Karena malam itu, mereka berdua melihat dengan kepala sendiri, manusia adalah kejahatan yang sebenarnya. 

Manusia suka menindas sesamanya. Yang kuat menindas yang lemah. Yang kaya menindas yang miskin. Yang miskin menindas sesama miskin. 

Ayam berkokok. Mereka kaget. Sebentar lagi subuh. Mereka sepakat untuk kembali ke kubangan gajah. Sebelum menuntut balas, mereka berdua akan kembali ke rumah masing-masing. Mereka ingin bertemu dengan keluarga. Rindu sudah di ubun-ubun.

***

Malam itu Sulaiman terbang ke rumahnnya. Demikian juga dengan Mul.

Rumah Sulaiman sudah kosong. Jelaga memenuhi setiap jengkal bagian rumah sederhana yang dibangun olehnya dua tahun lalu. Foto anak dan istrinya sudah kotor dipeluk debu. Ada coretan di dinding. Tanggal mereka menikah. Tanggal kelahiran anak mereka juga tanggal saat Sulaiman tidak lagi pulang.

Sulaiman tidak sanggup menahan gejolak jiwa. Dia menangis. Rindunya meronta. Tapi mau bagaimana lagi. Dia tidak tahu istrinya kemana? Bukankah hantu, dalam beberapa hal juga terbatas pengetahuannya? Hantu yang senior mengakui keterbatasan itu, konon lagi Sulaiman yang baru dua malam berstatus hantu.

Hal yang tidak kalah mengharukan juga terjadi di rumah mertua Muladi. Dari atap rumah dia melihat istinya tidur sambil memeluk seorang bayi kecil. Dia mencoba mendekat. Namun seketika bayi itu menangis. Muladi mundur. Air matanya keluar. Bayi itu mirip sekali dengannya. 

Perempuan muda itu bangun mencoba menenangkan sang bayi. Tapi bayi itu semakin keras menangis.

“Ah ribut sekali malam-malam begini. Kasih saja dia susu, kalau masih nangis, tampar saja mulutnya,” kata seorang lelaki dari luar kamar.

“Kurang ajar kau bang. Tak tahu etika memang engkau ini. Biarlah kau punya masalah dengan bang Muladi. Tapi anak ini tak tahu apa-apa,” Jawab perempuan itu.

Muladi terkejut. Dia mengintip ke ruang tamu. Ah, itukan Darmadi. Lelaki yang menjadi aktor utama pembunuhan dirinya. 

Muladi marah. Dia sudah tak sabar. Dia langsung turun ke hadapan Darmadi. Dia mencoba mencakar lelaki itu. Tapi sia-sia. Laki-laki itu tak tersentuh.

“Ah sialan. Kok gak bisa nih?,” Kata Muladi. Kembali dia mencoba mencakar musuh bebuyutannya. Tapi tetap tidak bisa.

“Heh tolol, hantu mana bisa membunuh manusia. Oon lu memang gak hilang ya,” Kata Sulaiman yang tiba-tiba muncul dari kamar utama.

“Eh kamu bang jadi gimana dong?,” 

“Kau nampakkan wajahmu di depan dia. Biarkan dia mati dengan ketakutannya sendiri.

Muladi menuruti apa yang disampaikan oleh Sulaiman. Dia kemudian mencoba menampakkan diri kepada Darmadi yang saat itu sedang menghitung uang hasil jualan ganja kepada TNI.

Dia tidak menyadari kehadiran Muladi. Muladi kesal. Kemudian dia mejatuhkan piring yang ada diatas meja. Darmadi terkejut. Saat melihat lurus ke ruang tengah, nampaklah Muladi yang berdiri di ruangan tengah dengan tubuh penuh lumpur. Wajahnya pucat. Matanya mengalirkan darah.

Darmadi takut luar biasa. Dia berteriak minta tolong dan melempar apapun ke arah Muladi. Namun semua lemparan itu tak kena. Dia melempar angin.

Istrinya keluar.

“Bang Muladi?!,” Tanya perempuan itu tak percaya. Sejenak kemudian dia menangis histeris.

Hebohlah suasana rumah itu. Semua penghuni rumah bangun. Darmadi semakin menjadi-jadi takutnya. Muladi tetap mematung di ruang tengah. 

“Maafkan aku Muladi. Aku mengakui bahwa akulah orang yang memerintahkan agar engkau dihabisi oleh Burhan dan Marzuki,” Kata Darmadi sambil meraung-raung ketakutan.

Se isi rumah kaget. Pembunuh orang yang mereka cintai, ternyata adalah orang yang selama ini mengaku bersimpati pada duka mereka. Hingga mau menikahi Anidar yang sudah berstaus janda.

Hantu Sulaiman yang ikut kesal dengan pengakuan Darmadi, menghembuskan angin ke arah lelaki pembunuh itu. Darmadi terpental ke dinding. Kemudian dia terlempar ke atas lantai. 

“Eh bang, kok kamu bisa?,” Tanya Muladi.

“Hahaha. Kamu memang hantu tolol. Kok gak bisa? Pakek angin dong?,”

“Ah, sudahlah aku tak mau pakai angin. Aku sudah puas dengan pengakuannya di depan keluarga Anidar. Mari kita cari dua manusia yang mengeksekusi kita,” Kata Muladi. Keduanya langsung menghilang. 

Anidar meraung-raung malam itu. Dia syok berat mengetahui dua kebenaran. Pertama bahwa suaminya benar-benar sudah tiada. Kedua yang membunuh suaminya, adalah suaminya yang sekarang. 

Malam itu Darmadi langsung diseret setelah dikeroyok beramai-ramai. Demikian juga dengan Burhan dan Marzuki. Mereka bertiga kemudian digelandang ke pos militer. Disana mereka kembali di hukum oleh TNI yang kesal, karena pada siangnya gagal menangkap GAM.

“Bunuh ketiganya. Rekayasa kasusnya. Panggil wartawan. Katakan bahwa mereka GAM yang kemarin kita kejar,” Kata Komandan pos.

***

Tuntas membalas dendam. Sulaiman dan Muladi kembali lagi ke kubangan gajah. Mereka ingin beristirahat dengan tenang dan tidak ingin lagi mengetahui kabar keluarga masing-masing.

“Sakitnya tuh disini, bila mengenang semua itu,” Ujar Sulaiman sambil membetulkan kepalanya yang miring.

“Sakitnya tuh disini, disini, dan disini,” Jawab Muladi sambil menunjuk hati, perut dan bahu.

“Masuk angin kau?,” Tanya Sulaiman.

“Hehehe. Iya bang,” []



















Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.