Misteri Hilangnya Boh Rom-Rom
Malam itu ibu marah besar. Hal ini dipicu oleh hilangnya satu piring boh rom-rom yang disimpan olehnya di kulkas.
Kami yang masih berusia SD disidang satu persatu. Aku setengah jam lebih diperiksa. Adikku Linda, mendapatkan jatah 15 menit. Sedangkan Raman Katibin, adikku yang masih duduk di kelas satu SD, disidik selama lima menit.
Kemarahan ibu wajar sebab ini kali kelima boh rom-rom yang merupakan pesanan tetangga, hilang. Bahkan dua kali ibu dibuat malu, karena harus membatalkan transaksinya. Hasilnya? Ibu dimarahi.
***
Malam-malam berikutnya kejadian yang sama kembali terulang. Jumlah yang hilang bervariasi. Namun secara umum, lima butir tetap hilang setiap dua hari sekali.
“Boh rom-rom hilang diambil oleh Raja Itam. Dia sejenis hantu besar penjaga sungai di bawah sana. Dia suka makanan Cut Kak. Namun jangan khawatir, dia sudah saya usir dengan ajimat Boh Leuping Ijo,” ujar Syaman Maun.
Malam itu Syaman Maun panen besar. Satu piring boh rom-rom, satu ekor ayam hitam, lima butir telur ayam kampung serta 50.000 uang tunai berhasil dibawa pulang.
***
Kondisi rumah menjadi stabil selama lima hari. Namun pada hari ke enam, boh rom-rom kembali hilang.
Aku yang sudah bosan dijadikan sasaran interogasi-karena aku paling doyan makan, mencoba mencari tahu.
Pada suatu malam aku tidak tidur di kamar. Aku memilih bersembunyi di bawah kolong dapur. Aku ingin melihat wujud hantu yang sudah terlalu sering mencuri boh rom-rom.
Tepat tengah malam, sekitar pukul 01.00 WIB, suara pintu belakang berderik. Bulu kudukku langsung berdiri. Jantungku berdegub kencang.
Sebuah bayangan muncul di balik pintu. Yang pertama nampak adalah rambutnya yang panjang hampir mengenai lantai. Dia berjalan dengan badan bongkok. Ya Tuhan, hantu bongkok rupanya, batinku.
Aku hampir saja menangis. Karena jarak hantu itu denganku hanya satu meter. Dia bergerak menuju kulkas. Jalannya sempoyongan. Mirip orang mabuk. Tapi tidak menceracau.
Begitu aku hendak berteriak, dia sudah membuka pintu kulkas. Ya Tuhan, ternyata!
“Nenek!?,” seruku.
Seluruh penghuni rumah terbangun dan segera menuju dapur.
“Masya Allah, nenek rupanya yang selama ini mengambil boh rom-rom secara diam-diam?,” kata ibu sambil terduduk lemas.
Bapak hanya menghela nafas. Beberapa hari yang lalu dia baru saja kehilangan uang untuk Syaman Maun.
Akhirnya kami lega. Misteri siapa pencuri boh rom-rom telah terpecahkan. Ternyata dia nenek kami yang sudah pikun. Mengapa kami tidak kepikiran ya? []

Post a Comment