"Janda Malang Harapkan Uluran Tangan Dermawan"
Natuna - Riau Global, Didalam rumah reot berukuran sekitar 3x4 meter persegi, yang terletak di Jalan H. Adam Malik, Kelurahan Bandarsyah, Ranai, Kabupaten Natuna, itulah, Siti Watianingsih tinggal bersama ketiga putranya.
Wanita berusia 36 tahun tersebut, merupakan salah seorang janda asal Kediri Jawa Timur, yang ditinggalkan oleh suaminya kerahmatullah, akibat kecelakaan maut yang menimpanya dua tahun silam.
Setelah kepergian suami tercintanya, Mbak Tia (sapaan akrabnya), kini harus rela berjuang menghidupi ketiga buah hatinya yang masih berusia dini, dengan berjibaku sendirian. Ketiga orang anaknya masing-masing yang pertama berusia 11 tahun dan duduk dibangku kelas 5 SD, yang kedua berusia 7 tahun duduk dibangku kelas 2 SD dan yang bungsu masih berusia 2 tahun.
Mbak Tia menceritakan, pasca peristiwa kecelakaan maut yang menimpa keluarganya di Jalan H. Adam Malik, Ranai, dua tahun silam hingga menewaskan suaminya itu, juga membuat cacat fisik anak bungsunya tersebut. Pasalnya, meskipun sudah berusia dua tahun lebih, namun putra kesayangannya itu belum dapat beraktifitas secara normal seperti balita-balita lain seusianya.
"Iya mas, sampai sekarang dia belum bisa apa-apa, jangankan berjalan, merangkak pun belum bisa. Padahal kalau anak normal, pasti dia sudah bisa berjalan. Ini karena kecelakaan itu, yang membuatnya seperti ini," tutur Mbak Tia dengan logat jawa.
Selain membuat cacat fisik anak bungsunya, peristiwa menyedihkan sepanjang hidupnya itu juga membuat tulang tangan kanannya patah. Sehingga mengakibatkan dia tidak bisa melakukan aktifitas berat seperti sebelumnya.
"Tangan kanan saya ini kalau dibawa kerja agak berat masih ngilu dan terasa sakit, makanya ngak bisa kerja berat,"keluhnya.
Untuk menghidupi dirinya dan ketiga buah hatinya, Mbak Tia meneruskan usaha yang ditinggalkan oleh almarhum suaminya, yaitu dengan berjualan bibit hortikultural dan tanaman hias. Namun kata dia, akibat minimnya modal dan keahliannya dibidang pembibitan, membuat usahannya tersebut meredup, sehingga tidak lagi bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Selain berjualan bibit, untuk menutupi kebutuhan vital keluarganya, ia juga membuat jajanan atau makanan ringan yang dijual diwarung-warung sekitar kota Ranai, seperti krupuk makaroni dan rempeyek.
"Namun berapa lah mas penghasilannya, paling besar sehari dapat Rp. 30 ribu, itupun jarang. Uang segitu kalau di Ranai ini nggak jadi apa-apa, tetap masih kurang," ungkapnya lagi.
Namun Mbak Tia tetap merasa bersyukur kepada Tuhan yang maha esa, karena keadilan sang pencipta itulah, ia beserta ketiga anaknya masih bisa bertahan hidup dan masih dapat membiayai pendidikan anaknya, meskipun dengan bantuan dari tangan-tangan ringan seorang dermawan.
"Tapi Alhamdulillah lah mas, masih ada yang kasian sama saya beserta anak-anak, kadang ada orang ngantar beras, ngantar sumbangan dan baju untuk anak-anak saya. Itulah rejeki yang diberikan Allah melalui orang-orang baik seperti mereka," ujarnya dengan rasa syukur yang mendalam.
Meski sudah dua tahun menjanda, Mbak Tia mengaku belum terfikir untuk mencari pasangan hidup untuk membantunya membesarkan dan mendidik ketiga putranya. "Belum lah mas, belum ada yang mau," akunya seraya tersenyum..... (Erwin)
Punya info menarik atau ingin berbagi berita silahkan |
| (25) Dibaca - (0) Komentar |
| [ Kirim Komentar ]
|

Post a Comment