Sepotong Kue Wafer
Kala itu aku masih duduk di bangku kelas empat SD
Ya, baru kelas empat sekolah dasar.
Diantara temanku, aku memang siswa yang paling kecil dikelasku.
Setiap hari aku dibuli
Aku selalu dimusuhi
Tak jarang juga dipukuli.
Ya, memang itu yang terjadi setiap hari.
Bahkan sering pulang berteman air mata.
Menyedihkan, ya memang menyedihkan.
Namun harus tetap kujalani demi sebuah mimpi.
Suatu hari ibuku membekaliku dengan beberapa potong kue wafer.
Ketika kubuka dikelasku,
Kuberikan sepotong wafer itu kepada salah seorang teman sebangkuku.
Dia merupakan satu dari banyak temanku yang sering menjahatiku,
Bahkan lebih jahat dari yang lainnya.
Ku ulurkan tangan kananku dengan sepotong wafer,
Dia menerimanya dengan senyuman, sembari berkata,
“Aku tak akan memusuhimu lagi, bahkan kau akan aku lindungi,”.
Lalu ku tarik nafas dalam-dalam, dan berkata dalam hati,
Ternyata kau menindas karena lapar,
Perutmu yang berontak, sehingga kau menggalak,
Hanya dengan sepotong kue wafer, taringmu mulai tumpul,
Cakarmu pun mulai melentur.
Selama ini kau tega menindihku, padahal aku teman sebangkumu,
Teman seperjuanganmu,
Teman yang hanya memiliki cita-cita sederhana,
Cita-cita ingin kenyang seperti manusia hidup pada umumnya.
Aku percaya, didunia ini bukan hanya ada kamu,
Bukan hanya ada ditempatmu,
Dan bukan pula hanya kala itu.
Sungguh sebuah filosofi yang nyata adanya.
Erwin Prasetio,
Natuna, 14 Januari 2017
Punya info menarik atau ingin berbagi berita silahkan |
| (119) Dibaca - (0) Komentar |
| [ Kirim Komentar ]
|

Post a Comment