Masyarakat Pengadah Natuna Keluhkan Kelangkaan Sinyal
Natuna - Riau Global,Di zaman yang serba modern seperti saat ini, memiliki sebuah alat komunikasi jarak jauh seperti telepon genggam atau handphone (HP), boleh dibilang sudah merupakan salah satu kewajiban bagi setiap orang, agar mempermudah seseorang tersebut berhubungan dan berkomunikasi kepada rekan maupun sanak saudara yang berada dikejauhan seperti luar daerah.
Namun, memiliki telepon genggam atau HP pun terasa percuma, jika didaerah dimana tempat kita tinggal tersebut, tidak terdapat sarana penunjang seperti touwer untuk mendapatkan jaringan berupa sinyal. Sebab HP dan sinyal tidak bisa dipisahkan layaknya romeo dan juliet, karena untuk mengoperasikan HP supaya bisa berkomunikasi dengan orang yang jauh, juga adanya sinyal yang memadai. Jika salah satu dari keduanya tidak ada, maka sama halnya seperti peribahasa membuang garam dilaut.
Hal Inilah yang dirasakan oleh masyarakat di Desa Pengadah Kecamatan Bunguran Timur Laut Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau. Betapa tidak, hampir semua warga di Desa yang berpenduduk 540 jiwa dari 148 kepala keluarga itu, memiliki alat komunikasi jarak jauh jenis HP, namun tetap saja masih susah berkomunikasi lantaran keberadaan sinyal didaerah tersebut yang tergolong langka, bak daerah yang terisolir.
Demikian disampaikan oleh Kepala Desa (Kades) Pengadah Zarmi, bahwa masyarakat di Desa yang dipimpinnya sangat mengeluh dengan kelangkaan sinyal yang ada di Desanya.
"Disini sangat susah sinyal, inilah yang kami keluhkan dari dulu," kata Zarmi kepada Riau Global.com Ju'mat (24/03) lalu dikantornya di Pengadah.
Zarmi mengatakan, saat ini didesanya hanya ada satu buah touwer milik PT. Telkomsel, namun ukurannya cukup mini, sehingga susah untuk menghantarkan sinyal. Belum lagi kata dia, touwer satu-satunya yang ada di Desa Pengadah tersebut acap kali rusak.
"Kalau mau nyari sinyal harus kebukit dulu, itupun sinyal dari Desa Teluk Buton, Kecamatan Bunguran Utara sana, karena touwer yang ada disini sering rusak, pokoknya sangat susah lah sinyal disini," keluhnya.
Masih kata Zarmi, bahwa pihaknya sudah pernah mengajukan bantuan untuk pembangunan touwer di Pengadah, namun sampai saat ini belum ditanggapi dari perusahaan yang bersangkutan.
"Soalnya kan ini milik swasta, jadi mereka (perusahaan) menghitung-hitung dulu, kira-kira untung nggak jika dibangun touwer dengan jumlah penduduk yang ada," ujarnya.
Ditempat terpisah, Zakaria (28) salah seorang warga Desa Pengadah, juga mengaku sangat prihatin dengan kondisi didaerahnya yang sangat susah mendapatkan sinyal.
"Susah sinyal di Pengadah yau, kalau mau nelpon harus nyari lokasi yang tinggi dulu, atau dipelabuhan," ungkapnya belum lama ini...... (Erwin Prasetio)
Punya info menarik atau ingin berbagi berita silahkan |
| (179) Dibaca - (0) Komentar |
| [ Kirim Komentar ]
|

Post a Comment