Misteri Hantu Kojet



Sudah dua purnama warga gampong tidak berani keluar rumah. Bilapun ada yang nekat, itu dikarenakan ada hajat yang tidak bisa ditunda. Istilahnya hajat sangkeng, kalau tidak keluar pasti geunteng. Tapi mereka yang nekat, sering tak lagi kembali. 


Malam adalah sebuah kutukan. Kami semua, warga Gampong Kloe, sangat tidak menyukai kegelapan. Karena kegelapan dalam pikiran kami, adalah sebuah ancaman. Bahkan sering pula, gelap menghadirkan air mata.

Hingga suatu malam Pak Imam desa kami hilang ditelan malam. Padahal malam itu dia hendak menuju rumah seorang warga yang ditimpa musibah kematian. Menurut cerita sang ahlul bait rumah yang musibah. Pak Imam tak pernah sampai kerumahnya. 

Siangnya warga melaporkan ke pihak yang berwajib. Tapi saat tiba disana, kami semakin dicekam rasa takut. Menurut seorang Brigadir Polisi, akhir-akhir ini Hantu Kojet seringkali bergerak ditengah kegelapan.

“Hantu Kojet tu, suka darah. Dia akan menghisap darah manusia. Kemudian akan menghisap isi otak. Dia juga suka sama biji mata dan kepala,” Kata Brigadir polisi itu.
“Bagaimana rupanya Hantu itu pak Pulisi?,” Tanya Nek Kasem penasaran. Wajahnya menampakkan aura ketakutan.

“Tak jelas juga. Kami para polisi belum berhasil menangkapnya,” Jawab polisi itu.

“Ah, pak pulisi ini aneh-aneh saja. Mana bisa hantu ditangkap,” Kata Nek Leman sambil menggulung rokok nipahnya. Dia juga terlihat takut.

“Eh iya. Tapi kan sebagai polisi, kami harus menangkap siapapun yang membuat keresahan. Iya kan?,” Timpal polisi itu . dia Nampak songong saat berkilah. 

Tapi karena kami sering tak bisa berpikir rasional, ya sudahlah. Kami semua percaya dengan apa yang dia sampaikan.

Sampai pulang, kami tak jadi melaporkan hilangnya Imam. Tapi sibuk berkhayal tentang Hantu Kojet.

***
Malam itu , aku, Kadir dan Amri bertugas sebagai peronda malam. Sejak kantor Babinsa (Bintara Pembina Desa-pen) didirikan di kampong kami, menjadi peronda adalah tugas baru kami. Untuk identitas, di bahu kiri dipasang PKD alias Petugas Keamanan Desa. Dibuat dari kain dilapisi busa tipis. Warna dominan kuning. Seperti pangkat gitu.

Menurut pak Komandan Babinsa, PKD merupakan identitas yang ditakuti oleh Hantu Kojet. Tapi tidak sembarang orang boleh memakainya. Hanya yang namanya tertera di daftar jaga saja yang dibolehkan memakainya.

Malam itu angin berhembus agak kencang. Dingin merangsek sampai ke ujung tulang. Kantuk menyerang luar biasa. Tapi karena mengingat hukuman bagi yang tertidur cukup parah, terpaksa kami harus melawannya.

Kira-kira pukul  satu dinihari. Sayup-sayup kami mendengar suara tangisan dan minta tolong. Suara wanita. Semakin lama semakin dekat.

“Itu pasti Hantu Kojet” Kata Amri sambil merapat ke dinding pos jaga. Dia mulai merafal ayat pendek. 

“Iya. Pasti dia menyamar sebagai perempuan. Agar kita tolong. Aku tidak berani,” Timpal Kadir. Dia memeluk Amri. Mereka kemudian saling berpelukan.

Aku masih penasaran dengan suara itu. Tapi sebuah suara tembakan telah meruntuhkan dinding penasaranku. Aku langsung tiarap. Kemudian hanya terdengar lolongan anjing. 

Pagi-pagi sekali kami mendengar kabar bila Rahmah, gadis paling cantik dikampung Kloe, telah hilang. Dua lelaki berpakaian serba hitam dan bersebo telah menyeretnya kedalam kegelapan malam.

Kami berusaha mencari. Tapi sampai siang hari Rahmah tidak ditemukan. Kami sempat menemukan ceceran darah di tepi sungai. Selebihnya adalah gelap. 

Ditengah-tengah kampung, polisi memberi amaran tentang bahayanya malam. Komandan polisi bicara panjang lebar tentang ketidakramahan malam. Mulutnya berbusa-busa.

“Tapi setahuku Rahmah tak keluar malam. Termasuk saat kejadian itu,” Kataku memotong ceramah polisi itu. “Bagaimana mungkin keangkeran malam akan menelannya. Aku rasa ada yang tidak berss di kampung kita ini,” sambungku lagi.
Dia menatap tajam kearahku. Mungkin tersinggung karena aku memotong kalamnya. 

“Kalau bukan Hantu Kojet. Lalu siapa pelakunya?,” Tanya polisi itu padaku.

Aku tidak menjawab. Warga desa memandangku dengan penasaran. Tapi karena aku tak kunjung menjawab, mereka mulai sinis.

“Sok pintar. Main potong pak polisi ngomong lagi,” Kata Leman.

“Sok tahu memang dia. Itu efek banyak baca buku,” Timpal Kak Boiti.

“Tapi aku yakin dia tidak diculik oleh malam ataupun Hantu Kojet. Karena semalam aku mendengar suara perempuan minta tolong. Amri dan Kadir ikut mendengar,” Timpalku.

Kedua temanku itu ikut membenarkan. 

Komandan polisi seperti salah tingkah. Dia menyalakan sebatang rokok. Kemudian kembali bertanya padaku.

“Apakah engkau yakin yang menculik Rahmah itu manusia?,”

“Entahlah pak polisi. Tapi kalaulah hantu Kojet pelakunya……,” kataku. Kalimat itu belum selesai, eorang polisi memotong .

“Mungkin dia bisa diperiksa sebagai saksi pak,” 

Aku terkejut. 

“Mana bisa kek gini modelnya. Aku kan hanya menyampaikan apa yang aku tahu saja. Kok aku harus pula berurusan dengan kantor bapak?,” jawabku.

Pak geuchik melerai debat itu. Dia memintaku untuk diam. Tentunya dengan bentakan. Aku diam. Polisi tadi kembali melanjutkan ceramahnya. Kami ini hantu Kojet tak lagi banyak disinggung. Dia mulai memberikan tausyiah agama terkait dengan kesabaran menerima musibah. 

Aku memilih pulang. Bosan aku mendengar ceramah polisi itu.

***
Dua malam berselang, aku harus menjaga durian yang sedang matang di kebun. Bapak sudah seminggu sakit. Mau tak mau aku harus kesana. Mak sempat melarang. Tapi karena aku bersikeras, dia akhirnya mengalah. 

Di kebun dekat hutan itu, sebenarnya kami mempunyai pondok kecil. Tapi malam itu hatiku was-was. Sepertinya akan terjadi sesuatu. Maka kuputuskan tidak tidur. Juga tidak tinggal di pondok.

Aku bersembunyi di semak-semak. Lokasinya agak tinggi. Diatas bukit yang langsung berbatasan dengan hutan.

Pukul 01.00 WIB, aku melihat beberapa bayang hitam mendekati pondok. Terang purnama memberikan kesempatan mataku untuk melihat lebih leluasa. Ada lima orang. Kupastikan itu manusia. 

Kaki mereka menginjak bumi. Mereka melangkah pelan. Sambil mengendap-endap. Tiba-tiba mereka menyulut api. Pondok dibakar. Mereka baru pergi setelah pondok itu rata dengan tanah.

Paham bahwa ada sesuatu yang mengincarku, aku segera angkat kaki. Aku menyusuri hutan belantara. Mencari jalan selamat. Aku tak peduli lagi akan kampung dan bagaimana esoknya ibu dan bapak akan menangis tersedu-sedu.
Inilah hantu kojet yang selama ini diceriterakan. Hantu kojet yang bisa membakar pondok dan kakinya menginjak tanah. 

Sambil terus melangkah, aku menaut-taut pengalaman. Apa yang menyebabkan aku diincar oleh hantu kojet itu?

Akhirnya aku menemukan simpulan. Bahwa bantahanku atas apa yang disampaikan oleh polisi tadi siang adalah hal yang paling logis. Mungkinkah polisi itu yang selama ini menjadi hantu kojet? Ataukah ada pihak lain?

Aku tak ingat tanggal berapa. Yang pasti aku menginjak tanah Malaysia pada tahun 1992. Keberadaanku tak kuceritakan pada siapapun. []



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.