Kuntilanak Penunggu Bekas Pos TNI
Warga yang melintas di depan rumah yang kini tinggal puing itu, acapkali menemukan seorang gadis, dengan rambut terurai duduk di teras. Dia tidak menyapa, juga tidak menganggu. Namun kehadirannya di sana membuat sebagian warga ketakutan.
Lokasi rumah tersebut berada salah satu gampong di Bireuen, Aceh. Pada tahun 1993, bangunan berkontruksi beton -megah di masanya- mulai ditempati oleh TNI dari satuan elit di Indonesia. di depan bangunan rumah itu, di sudut kanan rumah. Persisnya di damping alur kecil, terdapat sebuah rumpun bambu kuning. (kini rumpun bambu itu sudah dicabut dan dipindahkan ke dekat jalan-red).
Seorang saksi mata yang tinggal tidak jauh dari bangunan itu, bercerita bahwa warga disekitar itu, ketika melintas bakda magrib, seringkali menemukan seorang gadis cantik duduk di teras rumah dengan tatapan kosong.
Ada warga yang penasaran dengan sosok misterius itu. Kemudian menyapa. Namun tidak direspon. Wanita muda itu kaku dan tanpa ekspresi.
"Seringkali, bila ada warga yang kerasukan iblis, dia selalu mengaku berasal dari rumah itu. Dia juga mengaku bahwa kematiannya karena dibunuh dan diperkosa oleh serdadu di rumah yang sering disebut Pos Trienggadeng itu," kata warga tersebut.
Saksi mata itu bercerita, bahwa pada suatu ketika, seorang lelaki tua asal Kecamatan Pandrah ditangkap oleh serdadu. Besoknya, seorang gadis yang mengaku anak dari lelaki tersebut datang mengantar makanan. Namun, semenjak masuk ke pos itu, dia tidak pernah nampak keluar. Artinya dia tidak pernah pulang lagi.
Malam harinya, saksi mata sempat mendengar jeritan wanita di antara dentuman musik. Suaranya menyayat. Seperti minta tolong dan putus asa. Kira-kira menjelang subuh, terdengar suara mobil dihidupkan.
"Semenjak masuk ke pos, dia tidak pernah lagi terlihat keluar. Istri saya memantau terus. Usai teriakan itu, menjelang pagi, kami mendengar suara mobil dihidupkan. Biasanya, itu kegiatan pembuangan mayat hasil siksaan ke tempat lain," kenangnya.
Setiap kali merasuki warga, hantu itu selalu bercerita bahwa dirinya diperkosa beramai-ramai oleh serdadu yang mabuk. Dia dipaksa melayani mereka. Sedangkan ayahnya hanya bisa menonton. usai memperkosa, dia dan ayahnya dihabisi dengan sadis.
"Tidak lama setelah itu, saya mendengar bahwa ada penemuan mayat wanita muda di kawasan km 27, Juli (dekat Cot Panglima-red). Kemungkinan dia. Sebab, biasanya, korban Pos Trienggadeng, selalu dibuang ke sana," kisahnya mengenang.
Tahun 2000, serdadu pindah dari rumah itu. kemudian sempat disewakan ke warga sipil. Akhirnya bangunan itu dibakar oleh OTK di tengah malam buta, karena diduga menyewanya yang baru memperaktikkan aliran sesat.
"Untuk perempuan muda itu, kalau lagi rezeki, kita bisa menemukannya bakda magrib. Bisa juga mendekati magrib. Dia hanya duduk di teras saja. membisu sambil menatap kosong. Begitulah sikapnya sepanjang waktu," imbuh sang pemilik cerita. []
Lokasi rumah tersebut berada salah satu gampong di Bireuen, Aceh. Pada tahun 1993, bangunan berkontruksi beton -megah di masanya- mulai ditempati oleh TNI dari satuan elit di Indonesia. di depan bangunan rumah itu, di sudut kanan rumah. Persisnya di damping alur kecil, terdapat sebuah rumpun bambu kuning. (kini rumpun bambu itu sudah dicabut dan dipindahkan ke dekat jalan-red).
Seorang saksi mata yang tinggal tidak jauh dari bangunan itu, bercerita bahwa warga disekitar itu, ketika melintas bakda magrib, seringkali menemukan seorang gadis cantik duduk di teras rumah dengan tatapan kosong.
Ada warga yang penasaran dengan sosok misterius itu. Kemudian menyapa. Namun tidak direspon. Wanita muda itu kaku dan tanpa ekspresi.
"Seringkali, bila ada warga yang kerasukan iblis, dia selalu mengaku berasal dari rumah itu. Dia juga mengaku bahwa kematiannya karena dibunuh dan diperkosa oleh serdadu di rumah yang sering disebut Pos Trienggadeng itu," kata warga tersebut.
Saksi mata itu bercerita, bahwa pada suatu ketika, seorang lelaki tua asal Kecamatan Pandrah ditangkap oleh serdadu. Besoknya, seorang gadis yang mengaku anak dari lelaki tersebut datang mengantar makanan. Namun, semenjak masuk ke pos itu, dia tidak pernah nampak keluar. Artinya dia tidak pernah pulang lagi.
Malam harinya, saksi mata sempat mendengar jeritan wanita di antara dentuman musik. Suaranya menyayat. Seperti minta tolong dan putus asa. Kira-kira menjelang subuh, terdengar suara mobil dihidupkan.
"Semenjak masuk ke pos, dia tidak pernah lagi terlihat keluar. Istri saya memantau terus. Usai teriakan itu, menjelang pagi, kami mendengar suara mobil dihidupkan. Biasanya, itu kegiatan pembuangan mayat hasil siksaan ke tempat lain," kenangnya.
Setiap kali merasuki warga, hantu itu selalu bercerita bahwa dirinya diperkosa beramai-ramai oleh serdadu yang mabuk. Dia dipaksa melayani mereka. Sedangkan ayahnya hanya bisa menonton. usai memperkosa, dia dan ayahnya dihabisi dengan sadis.
"Tidak lama setelah itu, saya mendengar bahwa ada penemuan mayat wanita muda di kawasan km 27, Juli (dekat Cot Panglima-red). Kemungkinan dia. Sebab, biasanya, korban Pos Trienggadeng, selalu dibuang ke sana," kisahnya mengenang.
Tahun 2000, serdadu pindah dari rumah itu. kemudian sempat disewakan ke warga sipil. Akhirnya bangunan itu dibakar oleh OTK di tengah malam buta, karena diduga menyewanya yang baru memperaktikkan aliran sesat.
"Untuk perempuan muda itu, kalau lagi rezeki, kita bisa menemukannya bakda magrib. Bisa juga mendekati magrib. Dia hanya duduk di teras saja. membisu sambil menatap kosong. Begitulah sikapnya sepanjang waktu," imbuh sang pemilik cerita. []


Post a Comment