Setengah Jam Bergumul Dengan Hantu Cantik
Kisah ini terjadi sekitar tahun 2008 di salah satu tempat di kawasan Matangglumpang dua, Kecamatan Peusangan, Bireuen.
Malam itu, saya sudah tidak ingat tanggal kejadian, seorang dosen menelpon minta disiapkan kamar. Sebab dalam waktu dua jam lagi akan tiba di tempat itu.
Kemudian, kira-kira pukul 02.00 Dinihari, saya bergegas mempersiapkan kamar tidur. Lagi asyik-asyiknya membetulkan sprei, tiba-tiba lampu PLN mati. Kondisi sontak menjadi gelap.
Sambil menunggu lampu hidup kembali, saya merebahkan diri di tempat tidur itu. Baru saja saya merebahkan badan, tiba-tiba di langit-langit kamar saya melihat dua orang perempuan muda, memakai baju putih, serta wajahnya juga putih nampak sedang rebahan di atas kipas angin. Mereka berdua melihat ke arah saya. Wajah mereka cantik. Mirip cewek Tiongkok.
Batin saya langsung mengatakan bahwa yang ada di langit-langit itu bukan pencuri. Bukan pula sales rokok. Tapi makhluk gaib yang bernama hantu.
Ada keinginan untuk segera lari. Namun badan terasa berat. Akhirnya saya pasrah.
Saya mencoba azan. Tapi tiba-tiba keduanya langsung menubruk saya dan mencekik mulut hingga saya tidak bisa mengumandangkan azan.
Kondisi kamar tambah horror. Angin kencang seolah-olah berhembus mengamuk di dalam bilik kecil itu. Gorden berterbangan ke sana kemari. Saya memberikan perlawanan yang cukup mumpuni. Namun saya harus mengakui, walau berjenis kelamin perempuan, kedua hantu itu punya tenaga yang tidak kunjung melemah.
Mungkin mereka berdua alumni olahraga Smack Down sungguhan.
“Terserah kau mau baca apapun. Takkan pas kau baca, karena mulutmu ku cekik,” begitulah seolah-olah terdengar suara.
Saya terus bergumul dengan hantu sialan yang main keroyok. Sungguh perkelahian tidak fair. Saya tidak diberikan waktu untuk mengambil kuda-kuda. Sialan benar dua hantu ini. tidak tahu sopan santun. Berani-beraninya menyerang laki-laki di kamar gelap.
“Hantu sialan. Terserah kaulah. Pokoknya aku akan baca ayat-ayat pendek. Yang penting di dalam hati, makhrajal hurufnya pas,” kataku dalam hati. Kemudian langsung membaca surah-surah pendek.
Mereka terus memberikan perlawanan. Pergumulan kami tidak kunjung usai. Hingga akhirnya mereka kalah. Kemudian menghilang bak ditelan bumi.
Saya kemudian bangkit dari tempat tidur. Seluruh badan saya basah karena dibasahi oleh peluh. Lima menit kemudian listrik pun hidup. Saya kembali merapikan tempat tidur. Kemudian keluar kamar dan memberitahukan kepada teman-teman saya tentang peristiwa itu.
Tidak satupun diantara mereka yang percaya. Bahkan mereka mengolok-olok saya dengan kalimat nyinyir. Namun dua malam kemudian, mereka semua dibuat ketakutan luar biasa. []
Malam itu, saya sudah tidak ingat tanggal kejadian, seorang dosen menelpon minta disiapkan kamar. Sebab dalam waktu dua jam lagi akan tiba di tempat itu.
Kemudian, kira-kira pukul 02.00 Dinihari, saya bergegas mempersiapkan kamar tidur. Lagi asyik-asyiknya membetulkan sprei, tiba-tiba lampu PLN mati. Kondisi sontak menjadi gelap.
Sambil menunggu lampu hidup kembali, saya merebahkan diri di tempat tidur itu. Baru saja saya merebahkan badan, tiba-tiba di langit-langit kamar saya melihat dua orang perempuan muda, memakai baju putih, serta wajahnya juga putih nampak sedang rebahan di atas kipas angin. Mereka berdua melihat ke arah saya. Wajah mereka cantik. Mirip cewek Tiongkok.
Batin saya langsung mengatakan bahwa yang ada di langit-langit itu bukan pencuri. Bukan pula sales rokok. Tapi makhluk gaib yang bernama hantu.
Ada keinginan untuk segera lari. Namun badan terasa berat. Akhirnya saya pasrah.
Saya mencoba azan. Tapi tiba-tiba keduanya langsung menubruk saya dan mencekik mulut hingga saya tidak bisa mengumandangkan azan.
Kondisi kamar tambah horror. Angin kencang seolah-olah berhembus mengamuk di dalam bilik kecil itu. Gorden berterbangan ke sana kemari. Saya memberikan perlawanan yang cukup mumpuni. Namun saya harus mengakui, walau berjenis kelamin perempuan, kedua hantu itu punya tenaga yang tidak kunjung melemah.
Mungkin mereka berdua alumni olahraga Smack Down sungguhan.
“Terserah kau mau baca apapun. Takkan pas kau baca, karena mulutmu ku cekik,” begitulah seolah-olah terdengar suara.
Saya terus bergumul dengan hantu sialan yang main keroyok. Sungguh perkelahian tidak fair. Saya tidak diberikan waktu untuk mengambil kuda-kuda. Sialan benar dua hantu ini. tidak tahu sopan santun. Berani-beraninya menyerang laki-laki di kamar gelap.
“Hantu sialan. Terserah kaulah. Pokoknya aku akan baca ayat-ayat pendek. Yang penting di dalam hati, makhrajal hurufnya pas,” kataku dalam hati. Kemudian langsung membaca surah-surah pendek.
Mereka terus memberikan perlawanan. Pergumulan kami tidak kunjung usai. Hingga akhirnya mereka kalah. Kemudian menghilang bak ditelan bumi.
Saya kemudian bangkit dari tempat tidur. Seluruh badan saya basah karena dibasahi oleh peluh. Lima menit kemudian listrik pun hidup. Saya kembali merapikan tempat tidur. Kemudian keluar kamar dan memberitahukan kepada teman-teman saya tentang peristiwa itu.
Tidak satupun diantara mereka yang percaya. Bahkan mereka mengolok-olok saya dengan kalimat nyinyir. Namun dua malam kemudian, mereka semua dibuat ketakutan luar biasa. []


Post a Comment